Ke beranda
Menang atau berkembang? Mengapa iklim motivasi melahirkan pesepak bola yang lebih baik
Praktik kepelatihan

Menang atau berkembang? Mengapa iklim motivasi melahirkan pesepak bola yang lebih baik

Iklim motivasi di sepak bola usia muda: mengapa iklim berorientasi tugas membentuk pesepak bola yang lebih baik daripada tekanan hasil, kapan anak mulai membandingkan diri, dan 6 pengungkit TARGET untuk latihanmu.

Diterbitkan pada 10 menit baca

Sekilas

  • Bukan hasil pertandingan akhir pekan yang membentuk pesepak bola yang baik, melainkan iklim yang dibangun pelatih di latihan setiap minggu.
  • Iklim berorientasi tugas (menjadi lebih baik) menumbuhkan motivasi dari dalam; iklim berorientasi hasil (menang, membandingkan) melahirkan rasa takut gagal.
  • Pola pikir peringkat baru muncul pada anak sekitar usia 10 sampai 12 tahun; sebelumnya mereka mengukur keberhasilan dari kemajuan diri sendiri.
  • Lewat enam pengungkit TARGET (tugas, otonomi, pengakuan, pengelompokan, penilaian, waktu) kamu mengatur iklim secara sadar.
  • Iklim tugas bukan anti-kompetisi: pelatih yang mengutamakan perkembangan lebih sering menang dalam jangka panjang dan lebih sedikit kehilangan anak karena drop-out.

“Tadi menang?” Itulah pertanyaan pertama yang didengar kebanyakan anak setelah pertandingan, sering kali sudah di jalan menuju mobil, sering kali dari orang tuanya sendiri. Kedengarannya biasa saja. Tetapi pertanyaan itu memberi tahu si anak apa yang penting: hasil, bukan apa yang hari ini sudah ia kerjakan lebih baik. Sepanjang satu musim, sinyal-sinyal kecil ini menumpuk menjadi sebuah sikap. Dan sikap itu lebih menentukan perkembangan seorang pemain muda daripada latihan mana pun di lapangan.

Psikolog olahraga menyebut suasana dasar ini iklim motivasi. Ia adalah jawaban tak terlihat atas pertanyaan: dengan apa tim ini mengukur keberhasilan? Artikel ini menunjukkan mengapa iklim berorientasi tugas dalam jangka panjang membentuk pesepak bola yang lebih baik daripada tekanan hasil semata. Artikel ini juga menunjukkan kapan anak mulai membandingkan diri, dan lewat enam pengungkit apa kamu sebagai pelatih mengatur iklim ini. Ditulis untuk pelatih U-10 sampai U-15, tepat di fase ketika tekanan dari luar mulai meningkat.

Pertanyaan pertama yang salah setelah pertandingan

Bayangkan dua ruang ganti setelah pertandingan yang sama-sama berakhir 2-3. Di yang pertama, pelatih berkata: “Kalah. Lagi-lagi di belakang kurang waspada. Minggu depan tidak boleh begini lagi.” Di yang kedua: “Kebobolan tiga gol, jelas. Tapi saya lihat kalian untuk pertama kalinya membangun serangan dari belakang dengan rapi. Di situ kita lanjutkan.” Keduanya kalah. Tetapi anak-anak pulang dengan perasaan yang sama sekali berbeda, dan selama berminggu-minggu datang ke latihan dengan sikap yang berbeda pula.

Tolok ukur yang kamu tetapkan sebagai pelatih itu menular. Anak-anak mengambilnya, dan orang tua memperkuatnya di pinggir lapangan. Itulah sebabnya tekanan hasil sering muncul bukan di lapangan, melainkan di sampingnya. Kalau separuh orang tua hanya menatap papan skor, setiap kesalahan menjadi bencana, dan anak merasakannya. Cara meredam tekanan dari luar ini dan menghadapi orang tua yang menuntut dibahas di artikel tentang menghadapi orang tua yang sulit. Tetapi langkah pertama ada padamu: pertanyaan apa yang kamu ajukan lebih dulu?

Dua kacamata: memperbaiki diri atau menang

Di balik iklim motivasi ada pembedaan sederhana tentang bagaimana seseorang menetapkan bahwa dirinya “bagus”. Orang bisa mengaitkannya dengan kemajuan diri sendiri (orientasi tugas) atau dengan perbandingan terhadap orang lain (orientasi hasil, atau orientasi ego). Kebanyakan anak memakai kedua kacamata itu, tetapi mana yang dominan sangat bergantung pada iklim yang diciptakan pelatih.

Bedanya terdengar akademis, tetapi di setiap latihan tampak sangat konkret:

Berorientasi tugas (perkembangan)Berorientasi hasil (perbandingan)
Berhasil berartilebih baik daripada minggu lalumenang, lebih unggul dari yang lain
Kesalahan adalahlangkah belajarbukti kemampuan yang kurang
Yang dipujiusaha dan cara menyelesaikangol dan kemenangan
Tugas yang sulitmenantang, “aku coba”menakutkan, “nanti aku malu”
Setelah kekalahan“apa yang kita bawa pulang?”“siapa yang salah?”
Jangka panjangbertahan, lebih berani mencobatakut salah, lebih mudah berhenti

Tidak ada dari kedua kacamata itu yang sudah ada sejak lahir. Anak-anak belajar selama berbulan-bulan mana yang berlaku di tim mereka, dari apa yang dipuji, dihukum, dan diabaikan pelatih, serta dari cara ia membagi kelompok. Itulah kabar baiknya: kalau iklim itu dibuat, kamu juga bisa membuatnya dengan sadar.

Mengapa iklim yang menentukan, bukan hasil

Mengapa ini lebih dari sekadar soal sikap yang menyenangkan? Karena tolok ukur memengaruhi cara anak bermain di detik yang menentukan. Siapa yang takut salah memilih operan balik yang aman, bukan dribel yang berani. Selama bertahun-tahun, pilihan serba aman ini menjadi tipe pemain yang tidak berani mengambil risiko. Dan rasa takut salah tidak muncul dari si anak sendiri, melainkan dibuat oleh lingkungannya. Pelatih yang terutama menuntut hasil dan perbandingan serta menghukum kesalahan menciptakan persis rasa takut gagal yang mendorong anak ke sikap menghindar. Sebaliknya, anak yang boleh mengukur keberhasilan dari kemajuan dirinya sendiri bertahan karena dorongan dari dalam, sebab menjadi lebih baik sudah merupakan hadiah tersendiri.

Contoh yang terkenal untuk iklim yang mengandalkan rasa aman dan keberanian, bukan ketakutan, adalah Jürgen Klopp. Sepanjang kariernya ia dikenal bukan sebagai ahli utak-atik taktik, melainkan sebagai pelatih yang membangun hubungan dan membuat pemain merasa boleh berbuat salah selama mereka bermain dengan segenap tenaga. Saat diperkenalkan di Liverpool, ia ingin mengubah para peragu menjadi orang yang percaya. Itulah iklim tugas dan mentalitas: yang dipentingkan adalah perkembangan dan sikap, bukan satu hasil tunggal.

Lawannya tidak perlu disebut namanya karena semua orang mengenalnya: pelatih yang hanya mengejar hasil dan hanya menatap klasemen. Setelah setiap kekalahan ia mencari yang bersalah, dan pemain terlemah ia simpan di luar begitu keadaan genting. Di sepak bola orang dewasa, itu mungkin mendatangkan poin dalam jangka pendek. Di sepak bola anak dan usia muda, itu menghasilkan pemain penakut dan anak yang keluar. Bedanya bukan pada apakah pelatih ingin menang (keduanya ingin), melainkan pada apa yang ia jadikan ukuran keberhasilan sehari-hari.

Kapan anak mulai membandingkan diri

Iklim motivasi bekerja di setiap usia, tetapi tidak selalu sama. Anak yang lebih kecil memang belum mencapai tahap perkembangan untuk terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Anak tujuh tahun yang berhasil juggling bola sepuluh kali bangga karena sebelumnya hanya lima kali, bukan karena anak lain hanya delapan kali. Di usia ini keberhasilan nyaris otomatis terikat pada kemajuan diri sendiri.

Antara usia sekitar 10 dan 12 tahun, hal itu berubah. Anak mulai paham bahwa kemampuan itu relatif, bahwa orang bisa “lebih baik dari” atau “lebih buruk dari” yang lain. Sejak itu mereka membandingkan diri dengan sendirinya, dan perbandingan itu bisa mulai menutupi motivasi mereka sendiri. Pahitnya, tepat di rentang ini tekanan dari luar datang. Di Jerman (menurut praktik DFB), pada kelompok U-12 sampai U-15 klasemen mulai dipakai, tim pilihan diseleksi, dan perpindahan klub dibicarakan. Itulah saat ketika iklim yang sengaja berorientasi tugas paling melindungi.

Dalam praktik, artinya bertahap:

  • U-10/U-11: Definisikan keberhasilan hampir sepenuhnya lewat kemajuan diri sendiri. Biarkan hasil nyaris tak berperan; setiap anak sebaiknya pulang dengan perasaan hari ini sudah belajar sesuatu.
  • U-12/U-13: Perbandingan mulai datang, tetapi kamu dengan sadar menjaga tolok ukur tetap pada perkembangan. Catat klasemen, tetapi jangan jadikan itu bahan obrolan nomor satu.
  • U-14/U-15: Kompetisi menjadi nyata dan boleh begitu. Meski begitu, kemajuan tiap pemain tetap menjadi benang merahnya, kalau tidak kamu kehilangan justru pemain yang berkembang belakangan dan masih akan datang. Mengapa mereka sering hilang, dijelaskan di panduan pengembangan bakat sepak bola usia muda.

Enam pengungkit iklim motivasimu

“Menciptakan iklim” terdengar samar, tetapi sebenarnya cukup nyata. Pakar pendidikan olahraga merangkum pengungkit-pengungkit pentingnya ke dalam satu akronim: TARGET, dari bahasa Inggris untuk enam bidang Task, Authority, Recognition, Grouping, Evaluation, dan Timing. Dalam bahasa Indonesia: tugas, otonomi, pengakuan, pengelompokan, penilaian, dan waktu. Setiap pengungkit adalah keputusan yang kamu ambil di setiap latihan, sadar maupun tidak.

PengungkitCara membangun iklim tugas
TugasTawarkan latihan dengan beberapa tingkat kesulitan, sehingga setiap anak menemukan tantangan sesuai levelnya. Permainan kecil, bukan antrean.
OtonomiBiarkan anak ikut memutuskan: memilih latihan, kapten bergilir, aturan sendiri untuk permainan penutup. Ini menumbuhkan tanggung jawab.
PengakuanPuji usaha dan cara menyelesaikan masalah, bukan hanya gol. Bicarakan kemajuan sebisa mungkin empat mata, bukan sebagai perbandingan terbuka.
PengelompokanBentuk tim secara fleksibel dan campuran, bukan terus-menerus “yang jago lawan yang lemah”. Kerja sama lebih dulu daripada peringkat.
PenilaianUkur dengan acuan diri sendiri: lebih baik daripada minggu lalu, bukan lebih baik daripada teman di sebelah. Perlakukan kesalahan sebagai langkah belajar.
WaktuBeri cukup waktu untuk berlatih dan mencoba. Jangan mempermalukan anak mana pun di bawah tekanan waktu; setiap orang belajar dengan temponya sendiri.

Pengungkit dengan efek paling cepat adalah pengakuan, karena kamu menggerakkannya di setiap menit latihan. Perhatikan selama seminggu apa yang kamu puji dengan suara keras. Kalau 90 persen teriakanmu tertuju pada gol dan kemenangan, itu mengirim sinyal hasil yang jelas, apa pun yang kamu khotbahkan di luar itu. Pindahkan separuh teriakan pujianmu ke usaha, keputusan yang berani, dan penyelesaian yang rapi. Cara menuangkannya dalam arahan dan jeda babak tanpa terjebak klise ada di panduan pidato di ruang ganti sepak bola anak.

“Tapi kita kan ingin menang”

Keberatan yang paling sering datang dari pelatih yang ambisius berbunyi: “Bagus sekali, tapi kita bermain untuk poin, kita ingin naik.” Wajar. Iklim tugas jelas bukan lawan dari keinginan menang. Ia hanya jalan yang lain ke sana. Siapa yang setiap minggu menjadi sedikit lebih baik, seiring waktu juga memenangi lebih banyak pertandingan, hanya saja sebagai akibat dari perkembangan dan bukan sebagai satu-satunya ukuran.

Bedanya paling jelas terlihat saat kalah. Tim berorientasi hasil yang kalah 0-4 patah semangat, karena satu-satunya tujuan sudah putus. Tim berorientasi tugas membawa pulang dari pertandingan yang sama tiga hal yang bisa lebih baik minggu depan. Sepanjang satu musim, itulah beda antara tim yang batinnya mundur setelah pertandingan sulit ketiga dan tim yang bertahan.

Secara konkret, “kompetisi tanpa tekanan hasil” berarti, misalnya: setiap anak mendapat menit bermain yang adil, termasuk yang terlemah, karena perkembangan hanya terjadi lewat menit bermain. Cara melaksanakannya dengan rapi dan menjelaskannya kepada orang tua ada di panduan pembagian menit bermain yang adil di sepak bola anak. Praktik inilah iklim tugas yang dijalankan: ia mengatakan kepada setiap anak bahwa ia bagian dari tim dan boleh menjadi lebih baik, apa pun skornya.

Tidak ada tempat lain yang menguji hal ini seperti turnamen. Dalam satu hari saja menumpuk hasil, klasemen, dan babak gugur, dan godaan untuk bermain hanya demi piala paling besar. Di sinilah iklimmu terlihat: apakah di pertandingan grup ketiga pun kamu masih memainkan semua anak, atau menyimpan yang lebih lemah di luar begitu keadaan genting.

Cek dirimu untuk latihan berikutnya

Iklim motivasi tidak kamu putar dengan pidato yang berapi-api, melainkan dengan banyak keputusan kecil selama berminggu-minggu. Tiga di antaranya bisa kamu terapkan sudah di latihan berikutnya:

  1. Hitung pujianmu. Selama satu sesi, perhatikan untuk apa kamu berteriak. Pindahkan separuhnya dari gol ke usaha dan keputusan yang berani.
  2. Ganti pertanyaan pertama. Setelah pertandingan berikutnya, jangan tanya “Tadi menang?”, melainkan “Apa yang tadi kalian lakukan lebih baik daripada minggu lalu?”.
  3. Selipkan satu pilihan. Biarkan anak-anak memutuskan sesuatu sendiri dalam satu latihan. Otonomi kecil saja cukup untuk menumbuhkan tanggung jawab.

Untuk menilai iklimmu sendiri secara jujur, kerjakan cek diri di bawah: masing-masing dua sampai tiga pertanyaan ya-atau-tidak untuk keenam pengungkit TARGET. Siapa yang menandai lebih dari segenggam jawaban “tidak” yang jujur langsung tahu di mana pengungkit berikutnya berada.

Iklim ini bisa kamu masukkan sejak perencanaan turnamen. Jadwal yang menjamin setiap tim menit bermain yang adil dan alur hari yang tenang sudah menyingkirkan tekanan hasil dari hari itu sejak awal.

Rencanakan turnamenku secara adil dan berorientasi perkembanganGratis dan tanpa daftar akun

Cek diri untuk diunduh

Keenam pengungkit TARGET sebagai cek diri yang bisa dicetak untuk latihanmu: masing-masing dua sampai tiga pertanyaan ya-atau-tidak tentang tugas, otonomi, pengakuan, pengelompokan, penilaian, dan waktu, plus ruang untuk tiga langkah yang bisa langsung dilakukan.

Motivational Climate Self-CheckThe 6 TARGET levers for your trainingUnduh PDF

Bacaan lanjutan di AreaCopa

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu iklim motivasi dalam latihan sepak bola?
Iklim motivasi adalah suasana dasar yang diciptakan pelatih di dalam tim: dengan apa tim mengukur keberhasilan? Dalam iklim berorientasi tugas, yang dihitung adalah apakah seorang anak lebih baik daripada minggu lalu. Dalam iklim berorientasi hasil, yang dihitung adalah siapa yang menang dan siapa yang lebih baik daripada yang lain. Pelatih mengaturnya lewat enam pengungkit, yang disebut prinsip TARGET, bukan lewat satu-dua kali pidato.
Mulai usia berapa anak berpikir soal hasil, bukan soal perbaikan diri?
Sampai sekitar usia 9 tahun, kebanyakan anak mengukur keberhasilan dari kemajuan dirinya sendiri: berhasilkah aku menjaga bola tetap di udara? Baru sekitar usia 10 sampai 12 tahun mereka punya perasaan yang mantap tentang peringkat dan mulai membandingkan diri dengan orang lain secara sistematis. Pada rentang inilah tekanan klasemen dari luar ikut naik, sehingga iklim tugas yang disengaja paling penting di sini.
Bagaimana cara memuji yang benar tanpa menimbulkan tekanan hasil?
Pujilah usaha dan caranya menyelesaikan masalah, bukan bakat atau golnya. Sebutan untuk aksi yang konkret, misalnya menoleh sekilas ke belakang bahu sebelum menerima bola, lebih ampuh daripada pujian umum “kamu yang terbaik”. Bicarakan kemajuan sebisa mungkin empat mata, bukan sebagai perbandingan terbuka di depan kelompok. Cara mengemasnya dalam arahan ada di panduan pidato di ruang ganti.
Bukankah iklim tugas hanya sepak bola lembek tanpa ambisi?
Bukan. Iklim tugas justru menuntut lebih banyak usaha, karena setiap anak diukur dari prestasi terbaiknya sendiri, bukan dari lawan yang paling lemah. Ia hanya menggeser tolok ukurnya: dari pola pikir menang atau kalah ke pertanyaan apakah seseorang sudah lebih baik. Siapa yang terus membaik akhirnya juga memenangi lebih banyak pertandingan, hanya saja sebagai hasil sampingan dan bukan satu-satunya ukuran.
Benarkah iklim berorientasi hasil merugikan perkembangan?
Ya. Kalau hanya hasil akhir yang dihitung, anak menjadi takut salah dan bermain aman, bukan mencari solusi. Rasa takut gagal ini salah satu alasan banyak anak berhenti justru di masa pubertas. Iklim yang memperlakukan kesalahan sebagai langkah belajar membuat anak bertahan lebih lama di olahraga dan berani lebih banyak mencoba, dan itu menentukan bagi pembinaan mereka.