Ke beranda
Orang tua di pinggir lapangan: aturan perilaku di sepak bola usia muda
Praktik kepelatihan

Orang tua di pinggir lapangan: aturan perilaku di sepak bola usia muda

Orang tua di pinggir lapangan: empat aturan perilaku yang menyelamatkan hari turnamen bagi anak-anak, plus poster dan surat untuk orang tua yang siap dicetak.

Diterbitkan pada 7 menit baca

Sekilas

  • Sumber stres terbesar di turnamen usia muda jarang anak-anaknya, melainkan orang dewasa yang tegang di pinggir lapangan.
  • Menyemangati boleh, melatih tidak: anak yang mendengar pelatih dan orang tua sekaligus tidak mengambil keputusannya sendiri.
  • Keputusan wasit yang keliru itu wajar, apalagi wasit muda dan sukarelawan; berdebat keras adalah teladan terburuk.
  • Di Jerman, kelompok termuda sering sengaja tanpa klasemen; tanyakan adegan terbaik kepada anakmu, bukan skor akhir.
  • Dua kalimat di surat untuk orang tua dan satu poster di pintu masuk menentukan suasana sepanjang hari turnamen.

Mengapa pinggir lapangan menentukan hari turnamen

Kamu berdiri di pinggir lapangan, anakmu memegang bola, dan seruan “Tendang dong!” terlontar sebelum kamu sadar. Semua orang tua pemain sepak bola pernah begitu. Di pertandingan liga biasa hal itu nyaris tidak terasa. Di hari turnamen, dampaknya menumpuk: bukan satu pertandingan, melainkan empat atau lima, bukan orang tua yang sudah akrab dari klub sendiri, melainkan campuran orang dewasa yang tidak saling kenal, dan jadwal padat yang membuat semua orang gelisah.

Sumber stres terbesar di turnamen usia muda jarang anak-anaknya, melainkan orang dewasa. Berteriak memberi instruksi, berdebat dengan wasit, dan menuntut hasil merenggut kegembiraan bermain, padahal demi kegembiraan itulah DFB di Jerman mengubah format kompetisi sepak bola anak.

Turnamen memperparahnya karena tiga hal. Anak bermain beberapa pertandingan singkat dengan jeda sedikit, sehingga ketegangan menumpuk dan tidak sempat reda. Para orang tua nyaris tidak saling kenal, dan perbandingan diam-diam antarkeluarga yang asing menaikkan nada suara. Dan jadwal yang padat membuat setiap keterlambatan jadi bahan emosi. Kabar baiknya: empat aturan sederhana sudah cukup supaya garis pinggir membantu anak-anak, bukan menghambat mereka. Artikel ini ditujukan kepadamu sebagai orang tua, dan di akhir ada contoh siap pakai yang bisa dipakai penyelenggara untuk menentukan suasana bagi semua orang.

Menyemangati boleh, melatih tidak

Aturan terpenting lebih dulu: menyemangati boleh, melatih tidak. Tepuk tangan, menyerukan nama, atau “terus begitu!” setelah anak kalah dalam duel, semuanya berguna. Yang jadi masalah adalah instruksi taktis. “Ke kiri!”, “oper!”, “jaga di belakang!” datang dari pelatih, bukan dari garis pinggir.

Alasannya sederhana. Anak yang mendengar dua suara sekaligus, suara pelatihnya dan suara ayahnya, tidak bisa lagi mengambil keputusan sendiri. Dia kaku sesaat, dan sedetik itulah yang sering menentukan hasil duel. Anak belajar sepak bola dengan memutuskan sendiri dan membuat kesalahan di sepanjang jalan. Siapa pun yang mengambil keputusan itu dari luar, mengambil pula kesempatan belajarnya.

Pegangan praktis ini membantu di tengah ketegangan: apa pun yang juga akan kamu serukan kepada anak dari tim lawan, itu boleh. Seruan “bagus!” untuk penyelamatan indah dari kedua sisi, ya. Instruksi yang hanya ditujukan kepada anakmu, tidak.

Bedanya bisa dilihat dari seruan-seruan nyata. “Berjuang bagus!”, “terus begitu!”, “umpan bagus!”, atau tepuk tangan sederhana memberi semangat tanpa mengarahkan. “Tendang!”, “ke kiri!”, “jegal dia!”, atau “kenapa tidak oper?” adalah kepelatihan dan tempatnya bukan di garis pinggir. Kalau kamu merasa ada perintah yang hampir meluncur dari lidahmu, ganti dengan nama anakmu dan satu kata “ayo”. Dorongan yang diberikan sama, tetapi keputusan tetap di tangan anak.

Hormati wasit

Banyak pertandingan usia muda tidak dipimpin wasit berpengalaman, melainkan remaja 15 tahun dengan lisensi wasit yang baru didapat atau pelatih sukarelawan dari klub. Keputusan yang keliru memang terjadi, dan biasanya saling menutupi sepanjang hari. Siapa yang mengomentarinya dengan lantang tidak mendapat apa-apa dan kehilangan banyak.

Di sinilah efek teladan langsung terlihat. Anak yang melihat ayahnya membentak wasit belajar bahwa begitulah cara memperlakukan orang yang berwenang. Dan wasit muda yang setelah pertandingan ketiganya didatangi orang tua yang marah sering berhenti di musim pertamanya. DFB di Jerman sudah bertahun-tahun kesulitan mencari regenerasi wasit. Setiap hujatan di pinggir lapangan membuat sepak bola amatir kehilangan wasit dalam jangka panjang, padahal tanpa wasit tidak ada turnamen yang bisa berlangsung.

Karena itu aturannya sederhana: kalau ada keputusan yang keliru, tetap tenang dan jangan berkomentar. Kalau memang ada masalah mendasar, pelatih yang membereskannya setelah pertandingan, bukan orang tua selagi pertandingan berjalan.

Lebih sulit kalau anakmu sendiri kesal karena sebuah keputusan. Di sini pun teladanmu lebih berguna daripada penjelasan apa pun. Kalimat tenang seperti “menyebalkan, tapi wasit juga tidak bisa melihat semuanya, lanjut saja mainnya” mengajarkan anak menghadapi ketidakadilan tanpa terus terjebak di dalamnya. Ketenangan itulah yang dia bawa dari sepak bola ke situasi yang sama sekali tidak berkaitan dengan olahraga.

Hasil itu urusan nomor sekian

Di Jerman, pada kelompok termuda (U-6/U-7 dan U-8/U-9), banyak penyelenggara sengaja tidak menyusun klasemen. Itu bukan sikap lunak, melainkan keputusan olahraga: di usia ini yang penting adalah anak-anak banyak menyentuh bola, tumbuh senang bermain, dan ingin datang lagi. Hasil bukan yang utama.

Bagi kamu di pinggir lapangan, artinya dua hal. Pertama: setelah pertandingan, tanyakan adegan terbaik kepada anakmu, bukan skor akhir. Anak yang setiap selesai pertandingan hanya mendengar pertanyaan soal hasil akan mengaitkan sepak bola dengan tekanan, bukan kesenangan, dan tekanan akan datang sendiri cukup cepat. Kedua: beri tepuk tangan untuk setiap anak, bukan hanya untuk timmu sendiri. Penyelamatan yang bagus atau umpan yang indah pantas mendapat apresiasi, apa pun warna kaus yang dipakai kipernya. Itu melonggarkan suasana seluruh pinggir lapangan, karena persaingan diam-diam antarorang tua hilang dari hari itu.

Kamu adalah teladan

Ketiga aturan di atas bermuara pada satu hal: kamu adalah teladan, mau atau tidak. Anak-anak lebih sering menoleh ke garis pinggir saat bermain daripada yang disangka orang tua, dan mereka meniru apa yang mereka lihat di sana. Siapa yang membentak wasit, mendidik anak untuk membentak. Siapa yang berjalan ke mobil dengan wajah masam setelah kekalahan, mengajarkan anak bahwa pertandingan yang kalah merusak seluruh sore.

Sebaliknya juga berlaku. Orang tua yang setelah pertandingan menjabat tangan anak dari tim lawan, menghormati wasit, dan bisa melapangkan dada atas kekalahan memberi anaknya contoh yang jangkauannya jauh melampaui sepak bola. Itulah alasan sebenarnya mengapa pinggir lapangan jauh lebih penting daripada kesan yang ditimbulkan turnamen yang singkat.

Menentukan suasana turnamen: poster dan surat untuk orang tua

Kalau kamu menyelenggarakan turnamen atau mengurus tim, kamu punya pengungkit yang tidak dimiliki satu pun orang tua: kamu menetapkan aturan sebelum bola pertama bergulir. Aturan perilaku yang sudah tertulis di surat untuk orang tua dan terpasang sebagai poster berlaminasi di pintu masuk lebih ampuh daripada pengumuman lewat mikrofon ketika suasana sudah terlanjur memanas.

Dua unsur sudah cukup. Pertama, satu kalimat di surat undangan atau surat informasi untuk orang tua, misalnya: “Agar hari ini menyenangkan bagi semua anak, kami mengajak Bapak/Ibu di pinggir lapangan untuk menyemangati, bukan melatih, menghormati wasit-wasit muda kami, dan memberi tepuk tangan untuk aksi bagus dari kedua tim.” Kedua, poster berisi empat aturan, dipasang jelas di pintu masuk dan di tiap lapangan. Kalau kamu toh sudah merencanakan turnamen dengan aplikasi seperti AreaCopa, tempelkan saja poster itu ke daftar perlengkapan untuk hari pertandingan.

Teks ini bisa langsung kamu pakai, laminasi, dan pasang:

Kalau ada orang tua yang tetap saja kelewatan secara berulang, itu bukan urusan garis pinggir, melainkan urusan percakapan tenang di luar lapangan. Cara menanganinya sebagai pelatih tanpa membuat konflik memanas ada di panduan menghadapi orang tua yang sulit. Dan cara merencanakan seluruh hari turnamen dari undangan sampai penyerahan hadiah ada di checklist menyelenggarakan turnamen sepak bola.

Buat jadwal turnamenku dan rencanakan posternya sekalianGratis dan tanpa daftar akun

Pertanyaan yang sering diajukan

Bolehkah saya menyemangati anak saya dari pinggir lapangan?
Menyemangati boleh, melatih tidak. Tepuk tangan, menyerukan nama, dan kata-kata yang menguatkan baik untuk anak. Instruksi taktis seperti `ke kiri!` atau `tendang!` justru membingungkan, karena anak mendengar pelatih sekaligus orang tuanya lalu kaku di tempat. Pegangan praktisnya: apa pun yang juga akan kamu serukan kepada anak dari tim lawan, itu boleh.
Bagaimana bersikap kalau wasit membuat keputusan yang keliru?
Tetap tenang dan jangan berkomentar. Banyak pertandingan usia muda dipimpin wasit muda atau sukarelawan, dan keputusan yang keliru memang bagian dari permainan. Orang yang berdebat keras menjadi teladan untuk perilaku yang tidak ingin dilihat siapa pun di pinggir lapangan. Federasi sepak bola Jerman (DFB) sudah lama kesulitan mencari regenerasi wasit; setiap hujatan membuat olahraga ini kehilangan wasit dalam jangka panjang.
Bagaimana saya sebagai penyelenggara bisa menentukan suasana di pinggir lapangan?
Sampaikan aturan perilaku sebelumnya, jangan baru di hari pertandingan. Dua kalimat di surat untuk orang tua dan satu poster berlaminasi di pintu masuk lebih ampuh daripada teguran apa pun di tengah turnamen. Contoh siap pakai untuk keduanya ada di akhir artikel ini. Dengan begitu semua orang sudah tahu aturannya sebelum peluit pertama dibunyikan.
Apa yang harus saya lakukan kalau ada orang tua lain yang kelewatan?
Jangan berhadapan langsung di pinggir lapangan, karena itu justru memanas di depan anak-anak. Hubungi panitia atau pelatih, biar mereka yang menangani. Kalau ada orang tua yang berulang kali kelewatan, itu urusan percakapan tenang di luar lapangan, bukan balasan dari garis pinggir.
Perlukah saya menanyakan hasil pertandingan kepada anak setelah main?
Lebih baik tanyakan adegan terbaik daripada skor akhir. Di Jerman, kelompok U-6/U-7 dan U-8/U-9 di banyak tempat sengaja tidak memakai klasemen, karena yang dihitung adalah kegembiraan bermain, bukan hasil. Anak yang setiap selesai pertandingan hanya mendengar pertanyaan soal hasil akan mengaitkan sepak bola dengan tekanan, bukan kesenangan.